
PROGRESIFMEDIA.ID | Serang – Tokoh ulama kharismatik asal Banten, KH Ahmad Muhtadi Dimyathi, kembali menyampaikan pandangannya. Beliau menyoroti polemik Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kepariwisataan di Kota Serang. Pandangan ini disampaikan untuk merespons dinamika yang sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Melansir tayangan video dari berbagai media sosial instagram, Abuya Muhtadi menyatakan sikapnya. Beliau memberikan dukungan kepada Walikota Serang, Budi Rustandi, terkait raperda tersebut. Harapannya, kebijakan pariwisata yang disahkan nantinya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Haji Abuya Muhtadi mendukung kepada wali kota Serang untuk menetapkan Raperda Kepariwisataan yang bernuansa Islami. Saya ucapkan terimakasih kepada kawan-kawan, mengharapkan bernuansa Islami,” ujar Abuya Muhtadi dalam video, Selasa (4/8/2026).
Dalam rekaman singkat itu, beliau menyapa masyarakat dan memperkenalkan diri kepada publik. Beliau juga berterima kasih kepada semua pihak yang terus mengawal jalannya perancangan peraturan ini. Pesan utamanya adalah memastikan agar aturan kepariwisataan di kota tersebut memiliki nuansa Islami.
Sebelumnya, sempat beredar pula video lain di akun Instagram @ernayuliawatiofficial yang membahas tentang isu serupa. Pada rekaman tersebut, Abuya Muhtadi menyoroti aturan yang berpotensi melonggarkan peredaran minuman keras. Beliau sangat berharap agar pasal-pasal bermasalah tersebut tidak diberikan ruang dan tidak disahkan.
Pernyataan terbaru ini muncul mengingat Raperda Kepariwisataan sedang berada pada tahap pembahasan krusial. Beberapa kiai dan ulama dari Kota Serang sendiri sebelumnya telah menemui Abuya Muhtadi. Silaturahmi tersebut bertujuan untuk memohon restu serta dukungan moral dalam mengawal jalannya peraturan.
Perhatian dari para tokoh agama ini sangat penting agar arah kebijakan pariwisata tepat sasaran. Mereka tidak ingin pariwisata Kota Serang hanya difokuskan semata pada peningkatan keuntungan ekonomi. Pengembangan wisata juga harus selalu diselaraskan dengan karakter kearifan masyarakat setempat yang religius.
