JAKARTA | PROGRESIFMEDIA.ID – Media Rusia, Sputnik, menerbitkan laporan yang menyebut miliarder asal Amerika Serikat, George Soros, dan lembaga yang dikelolanya diduga berada di balik serangkaian protes yang berujung ricuh di Indonesia. Tuduhan ini diungkap oleh analis geopolitik Angelo Giuliano dalam laporan publikasi tersebut.
Giuliano menyampaikan bahwa ada dugaan pengaruh eksternal dalam demonstrasi tersebut, terlihat dari penggunaan simbol bajak laut ala anime “One Piece” di berbagai lokasi aksi. Simbol ini dianggap sebagai taktik simbolik yang pernah digunakan di negara lain—menunjukkan kemungkinan ada campur tangan asing.
Lebih lanjut, Giuliano mencurigai keterlibatan National Endowment for Democracy (NED) dan Open Society Foundations (OSF) milik Soros dalam mendukung media serta organisasi tertentu di Indonesia sejak era 1990-an. Namun tudingan tersebut hanya berdasar opini—tanpa bukti konkret yang diverifikasi independen.
Namanya kembali mencuat karena bukan kali pertama Soros dikaitkan dengan gejolak politik. Pada krisis moneter Asia 1998, Soros pernah dituduh memperparah anjloknya rupiah oleh para tokoh regional, meski ia membantah melakukan intervensi pasar di Indonesia.
Tuduhan-tuduhan terhadap Soros kerap muncul di sejumlah konteks global, termasuk protes Black Lives Matter, peristiwa Euromaidan di Ukraina, serta kampanye “Stop Soros” di Hungaria. Banyak dari tuduhan ini dikategorikan sebagai teori konspirasi atau “disinformasi”, tanpa bukti kuat.
Soros sendiri dikenal sebagai filantropis global melalui Open Society Foundations, di mana dia telah menyumbangkan miliaran dolar untuk mendukung demokrasi, hak asasi, dan pendidikan di lebih dari 120 negara. Namun, donasinya sering dijadikan kambing hitam dalam teori yang menuduhnya sebagai “puppet master” politik global.
Secara domestik, eks Kepala BIN AM Hendropriyono juga pernah menyinggung adanya keterlibatan pihak asing dalam unjuk rasa yang berlangsung di DPR/MPR RI. Meski demikian, ia tidak menyebut secara spesifik sosok seperti Soros.
Singkatnya, tudingan adanya peran George Soros dan lembaganya dalam demo ricuh di Indonesia saat ini masih berupa opini geopolitik dari media pro-Kremlin. Hingga saat ini, belum ada verifikasi independen yang membenarkan keterlibatan tersebut.
