Oleh: Jemmy Ibnu Suardi – Peminat Kajian Sejarah Islam
Dalam lembaran sejarah Islam, nama Harits bin Nu’man mungkin tidak sepopuler Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar bin Khattab. Namun, sosok dari kaum Ansar ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hati Rasulullah SAW. Ia adalah potret nyata tentang bagaimana cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mampu mengalahkan keterikatan pada harta benda.
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan membangun Masjid Nabawi, kebutuhan akan ruang tempat tinggal bagi keluarga Nabi terus berkembang seiring waktu. Harits bin Nu’man, seorang sahabat dari Bani Hanun bin Khazraj, memiliki keberuntungan sekaligus kemuliaan, rumah-rumahnya mengelilingi masjid Nabawi.
Setiap kali Rasulullah SAW menikah dan membutuhkan bilik rumah baru, Harits dengan sigap mengosongkan rumahnya dan menyerahkannya kepada Nabi. Atau sebagian pendapat Nabi yang membeli rumahnya Harits. Hal ini dilakukan berulang kali. Harits terus berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya yang lebih jauh demi memastikan Rasulullah memiliki tempat tinggal yang layak dan dekat dengan pusat dakwah.
Puncaknya adalah saat Nabi merasa sungkan ketika ingin mencarikan rumah untuk putri tercinta, Sayyidah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW bersabda, “Aku merasa malu kepada Harits karena kami telah mengambil banyak rumahnya.”
Mendengar hal itu, Harits segera menghadap Nabi dan mengucapkan kalimat yang melegenda: “Ya Rasulullah, demi Allah, apa yang engkau ambil dariku lebih aku cintai daripada apa yang engkau tinggalkan untukku. Apa yang engkau ambil dariku, sungguh itu lebih baik bagiku.”
Keistimewaan Harits tidak hanya berhenti pada kedermawanannya. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, menceritakan pengalamannya saat bermimpi berada di surga. Di sana, Nabi mendengar suara bacaan Al-Qur’an yang merdu.
Ketika bertanya siapa yang membaca, malaikat menjawab: “Itu adalah Harits bin Nu’man.” Nabi kemudian berpesan kepada para sahabat, “Demikianlah balasan bagi orang yang berbakti. Dia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya.”
Kisah ini memberikan pesan kuat bagi kita di era modern, bahwa pintu surga tidak hanya terbuka melalui jalur ibadah mahdah (ritual), tetapi juga melalui jalur pengabdian kepada orang tua dan pengorbanan harta untuk perjuangan agama.
Saksi Langit dan Bumi akan loyalitas Harits, yang juga teruji di medan jihad. Ia adalah veteran Perang Badar dan termasuk dari segelintir orang yang tetap teguh berdiri melindungi Nabi saat Perang Hunain berkecamuk hebat. Karena ketulusannya, Allah memberinya kemuliaan untuk melihat Malaikat Jibril dalam wujud manusia saat berbicara dengan Nabi sebuah anugerah yang hanya didapatkan oleh segelintir sahabat pilihan.
Dari sosok Harits bin Nu’man, kita belajar tentang konsep “kepemilikan”. Bagi Harits, harta (dalam hal ini properti) hanyalah titipan yang nilai tertingginya justru muncul saat aset tersebut mampu menopang dakwah dan menyenangkan hati sang Nabi.
Di tengah dunia yang kian materialistik, Harits mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak rumah yang kita miliki, melainkan seberapa banyak kebermanfaatan yang lahir dari apa yang kita miliki. Ia adalah teladan tentang bagaimana menjadi tetangga yang baik, anak yang berbakti, dan pejuang yang tulus.
Harits bin Nu’man senantiasa menginspirasi kita untuk menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala kepentingan materi.
