OPINI
Oleh: Ilham – Ketua Umum KAMMI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Mahasiswa kerap disebut sebagai garda terdepan perubahan, penjaga nurani bangsa, dan agen moral masyarakat. Namun, realitas hari ini menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan: moral mahasiswa mulai memudar. Gelar “agen perubahan” kini terasa hampa ketika nilai-nilai luhur yang menjadi identitas mahasiswa perlahan terkikis oleh arus modernitas dan gaya hidup yang serba instan.
Fenomena ini tampak jelas dalam kehidupan kampus maupun sosial. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam budaya konsumtif, tergiur pinjaman online (pinjol), terlibat dalam judi daring, bahkan mengabaikan nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas. Ironisnya, sebagian dari mereka justru aktif berorganisasi, tetapi kehilangan arah moral perjuangannya.
Organisasi yang semestinya menjadi laboratorium pembentukan karakter kini sering kali berubah menjadi arena ambisi pribadi, perebutan jabatan, atau alat kepentingan kelompok. Semangat pengabdian, integritas, dan kepedulian sosial, yang dulu menjadi ciri khas mahasiswa, kini kian memudar di tengah derasnya godaan pragmatisme dan hedonisme.
Krisis moral ini turut berimbas pada relasi sosial di lingkungan kampus. Mahasiswa yang kehilangan kompas moral cenderung meniru budaya negatif, mengabaikan etika pergaulan, dan kurang peduli terhadap kondisi sekitar. Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter dan akhlak, bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik tanpa fondasi moral yang kuat.
Sebagai Ketua Umum KAMMI UIN SMH Banten, saya meyakini bahwa kebangkitan moral mahasiswa harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Kedekatan dengan ajaran Allah SWT menjadi fondasi utama. Nilai spiritual yang kuat akan menjadi kompas untuk membedakan antara benar dan salah, sekaligus menjaga integritas di tengah derasnya arus kehidupan modern yang mudah mengikis karakter.
Selain itu, mahasiswa perlu memperbanyak aktivitas produktif yang membangun, bukan sekadar konsumtif atau merusak. Ketika kebiasaan positif telah mengakar, waktu luang akan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan memperkuat mental serta intelektual. Lingkungan pergaulan pun harus dipilih secara bijak agar tidak terjerumus pada pengaruh negatif dan tetap berjalan di jalur kebaikan.
Merosotnya moral di kalangan mahasiswa bukan hanya masalah personal, tetapi juga potret kondisi moral bangsa di masa depan. Mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin esok. Karena itu, sudah saatnya mahasiswa bangkit, memperkuat nilai moral, dan kembali menjadi teladan di tengah masyarakat.
Hanya dengan moral yang kokoh, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan sejati, menjaga nurani bangsa, serta mengembalikan marwah perjuangan yang sesungguhnya.
