PANDEGLANG | PROGRESIFMEDIA.ID –
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pandeglang mendesak Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk mengevaluasi sekaligus mencopot Kepala Kemenag Pandeglang. Desakan ini muncul akibat tidak dilibatkannya ormas Islam bersejarah Mathla’ul Anwar dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Pandeglang baru-baru ini, (15/10).
Ketua DPD KNPI Pandeglang, Saepudin, menilai hal tersebut sebagai bentuk kelalaian serius dan ketidakpekaan terhadap sejarah. Menurutnya, Mathla’ul Anwar merupakan ormas Islam tertua yang lahir di Pandeglang dan memiliki peran besar dalam sejarah pendidikan serta dakwah Islam di Indonesia.
“Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Tidak dilibatkannya Mathla’ul Anwar dalam peringatan Hari Santri jelas mencederai rasa keadilan dan mengabaikan kontribusi besar ormas ini dalam perjalanan sejarah umat,” ujar Ketua KNPI Pandeglang.
KNPI menegaskan, dalam proses penetapan Hari Santri Nasional di tingkat nasional, Mathla’ul Anwar justru menjadi salah satu ormas paling aktif memperjuangkan lahirnya kebijakan tersebut.
“Ironis sekali, ormas yang sejak awal berjuang dalam penetapan Hari Santri malah diabaikan di tanah kelahirannya sendiri,” lanjutnya.
Menurut KNPI, kejadian ini menunjukkan lemahnya koordinasi, kepekaan sosial, dan penghormatan terhadap sejarah di tubuh Kemenag Pandeglang.
“Seorang kepala instansi agama harus menjadi perekat, bukan sumber perpecahan. Karena itu, kami mendesak Menteri Agama RI untuk segera mencopot Kepala Kemenag Pandeglang dan menggantinya dengan sosok yang lebih terbuka serta memahami nilai sejarah,” tegas Saepudin.
Meski demikian, KNPI Pandeglang mengapresiasi langkah perbaikan yang dilakukan setelah munculnya kritik dari berbagai pihak. Pihak Kemenag akhirnya kembali melibatkan Mathla’ul Anwar dalam susunan kegiatan resmi Hari Santri.
“Kami menghargai langkah perbaikan ini, tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa ada persoalan serius dalam tata kelola dan komunikasi di tubuh Kemenag Pandeglang,” tambah Ketua KNPI Pandeglang.
KNPI menegaskan, pernyataan ini merupakan seruan moral dan bentuk tanggung jawab pemuda untuk menjaga nilai keadilan, penghargaan terhadap sejarah, dan kebersamaan umat.
“Hari Santri adalah momentum pemersatu, bukan milik satu golongan. Pandeglang sebagai tanah kelahiran Mathla’ul Anwar seharusnya menjadi contoh penghormatan terhadap sejarah perjuangan Islam,” tutupnya.
